Ubah Sampah dari Pr menjadi Rp

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby
 
Indonesia memiliki sebutan unik sebagai “Negara Supermarket Bencana”. Terlepas dari bencana yang berasal dari faktor alam, berbagai bencana akibat ulah manusia terbilang cukup sering terjadi; banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan dan lain sebagainya. Selain itu, Indonesia juga memiliki sebutan sebagai “Negara Arisan Bencana”. Bencana yang terjadi dalam waktu yang cukup berdekatan serta bergantian inilah yang kemudian membuat Indonesia menyandang sebutan tersebut. Dua sebutan unik ini disampaikan oleh Direktur Sahabat Lingkungan, Drs. H. Satrijo Wiweko, MT., dalam Workshop Green Economy, Senin (04/3).

 “Bukit dan gunung terus digaruk, eksploitasi hutan juga ngawur yang kemudian mengganggu habitat tumbuhan dan hewan. Hutan-hutan mangrove yang berguna untuk mencegah gelombang tsunami digusur dijadikan hotel, bangunan dan sebagainya karena kepentingan ekonomi sesaat. Akhirnya terjadilah tsunami yang merusak dan berbagai macam bencana,” papar Drs. Wiweko. Lebih lanjut ia menambahkan, “Banjir sendiri saat ini bukan hanya didesa, melainkan juga dikota. Simbol negara seperti di Jakarta malah sering kebanjiran.”

Ia kemudian melanjutkan, bahwa pemikiran masyarakat akan berbenturannya kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup tersebutlah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan. Padahal, menurutnya, keduanya bisa berjalan beriringan. “Kita tidak membenturkan antara ekonomi dan lingkungan, tapi bagaimana keduanya bersinergi untuk membangun pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan,” urainya.

Menurutnya, ada berbagai macam cara untuk mengubah kerusakan lingkungan akibat ulah manusia dengan segudang Pekerjaan Rumah (PR) ini menjadi Rp (re: bernilai ekonomi). Untuk kerusakan lingkungan hutan, ia menyarankan saat dilakukan reboisasi menanam tanaman dengan nilai produktif seperti pohon durian dan nangka. “Jadi nanti kita bisa memanennya dari hasil produksi, inilah green economy. Dari segi ekologisnya juga mampu menahan banjir ataupun longsor,” terangnya.

Sampah plastik yang menjadi momok terbesar bagi kerusakan lingkungan saat ini juga mampu diubah menjadi bernilai ekonomi. Bagi Koko, panggilan akrabnya, melalui konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle), sampah mampu menghasilkan rupiah. “Sampah plastik itu setara dengan 16 pesawat boeing 747. Selain memang dengan mengurangi sampah sekali pakai, salah satu terobosan inovatif yang saat ini dicanangkan oleh pemerintah mengenai PR sampah ini adalah penggunaan transportasi umum yang membayar dengan sampah,” ujarnya. Selain itu, gas metan yang berasal dari tumpukan sampah juga bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor. Juga melalui bank sampah dan daur ulang sampah menjadi berbagai macam kerajinan tangan, mampu membantu masyarakat menambah penghasilan ekonomi dan secara tidak langsung juga mengurangi tumpukan sampah. (ua/aep)

www.untag-sby.ac.id 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eco Green Hingga Kontes Modifikasi Ramaikan Dies Natalis HIMAMETA ke 32

Bank Jelantah, Solusi Limbah Minyak Agar Tak Jadi Polutan