Bank Jelantah, Solusi Limbah Minyak Agar Tak Jadi Polutan

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby
 
“Memasak menggunakan minyak goreng memang membuat makanan terlihat lebih menggugah selera. Namun sayangnya, minyak goreng sering kali tersisa dan tidak layak lagi untuk dibuat menggoreng,” ujar Dra. Noorshanti Sumarah, M.I.Kom didepan peserta Eco Fest 2019 Untag Surabaya, Jumat (22/3). Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya itu menjelaskan sisa minyak goreng yang biasa disebut minyak jelantah tersebut hanya bisa digunakan dua kali saja. Apabila digunakan lebih dari itu, maka berpotensi besar menjadi pemicu kanker. “Akhirnya adanya minyak jelantah ini kerap menjadi polutan karena dibuang ke tanah ataupun saluran air,” imbuhnya.

Oleh karenanya, untuk mengurangi pencemaran lingkungan khususnya pada limbah minyak, muncullah ide adanya Bank Jelantah. “Mungkin sudah banyak yang mengetahui mengenai Bank Sampah, namun untuk Bank Jelantah satu ini belum banyak yang tahu,” ujar pemerhati lingkungan ini. Ia menjadi pendamping Karang Taruna (Kartar) Rejomulyo, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Wonokromo untuk mensosialisasikan adanya Bank Jelantah ini kepada masyarakat.

Robi, salah satu anggota Kartar kemudian menjelaskan mengenai program Bank Jelantah. “Dengan program ini masyarakat bisa mengumpulkan minyak jelantah yang ada dirumah untuk disetorkan ke Bank Jelantah,” tuturnya. Untuk minyak jelantah yang disetorkan, kata Robi, per 1 liter akan dihargai Rp. 2.500. “Lumayan bisa digunakan untuk beli kebutuhan rumah tangga. Jadi, ditabung saja,” tambahnya.

Tidak harus membawa ke pusat pengumpulan minyak jelantah yang ada di Gelora 10 Nopember Surabaya, Robi juga mengatakan bahwa pihaknya siap datang ke rumah warga untuk mengambil minyak jelantah yang telah dikumpulkan. Robi menjelaskan, “Salah satu kampung yang biasa setor minyak jelantah adalah kampung Putatjaya. Tiap 2 minggu mereka bisa setor hingga 100 Liter. Jadi kalau diiatas 50 liter, maka kita akan ambil.”

Hasil dari minyak jelantah yang terkumpul nantinya tidak untuk disaring atau disuling, melainkan akan diolah kembali menjadi biodiesel, sabun batangan, pembersih lantai, pupuk cair hingga lampu sentir. “Sumber energi tidak akan menutup kemungkinan berasal dari minyak jelantah karena pabrik-pabrik juga butuh biodiesel. Jadi ini bisa menjadi bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil,” tutupnya. (ua/aep)

www.untag-sby.ac.id 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eco Green Hingga Kontes Modifikasi Ramaikan Dies Natalis HIMAMETA ke 32